Akademisi Minta Temuan 996 Senjata Jangan Korbankan Proses Belajar Mengajar Siswa
JAKARTA, iNews Cilegon.id - Akademisi minta temuan 996 senjata di Sekolah Islam Swasta Harapan Ibu, Jakarta Selatan tak mengorbankan proses belajar mengajar siswa.
Desakan tersebut disampaikan akademisi bidang hukum Universitas Pamulang, Turnya, S.H., M.H., dalam keterangan di Jakarta, Kamis (13/8/2026).
"Sekolah merupakan ruang pendidikan. Anak-anak jangan sampai menjadi korban dari konflik orang dewasa maupun isu yang terlalu jauh dari fakta yang sebenarnya," kata Turnya.
Lulusan pendidikan Lemhanas tahun 2004 ini menyayangkan kegiatan belajar mengajar menjadi daring pada pekan ini.
"Jangan berlarut-larut. Proses belajar mengajar harus kembali normal secepatnya. Agar siswa tak terpengaruh negatif," jelas Turnya.
Turnya juga meminta semua pihak untuk tidak menggiring isu ini secara berlebihan sehingga melenceng dari fakta yang sebenarnya.
"Itu kan digiring ke spekulasi yang tidak berdasar, termasuk isu narkoba maupun kerusuhan Agustus. Itu berlebihan bisa bahayakan proses belajar mengajar," ujar sosok yang juga praktisi hukum sebagai advokat.
Turnya mengacu keterangan Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Budi Hermanto yang menjelaskan hasil pemeriksaan bahwa dari 996 pucuk senjata, sebanyak 995 merupakan senapan angin dan satu pucuk merupakan senjata api jenis Franchi SPAS-15 kaliber 12 GA.
"Berarti spekalulasi yang beredar dikaitkan dengan adanya kerusuhan, itu mengada-ada," tegas Turnya.
Untuk meredam agar spekulasi tak berkembang di luar fakta, Turnya mengatakan pihak yang merasa dirugikan oleh pemberitaan dapat menggunakan hak jawab dan hak koreksi sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.
"Kalau terdapat berita yang keliru, jangan langsung membangun perang opini. Dokumentasikan seluruh pemberitaan, petakan bagian mana yang dianggap tidak benar, kemudian sampaikan hak jawab secara resmi kepada masing-masing perusahaan pers," kata Turnya.
Editor : M Mahfud