Get iNews App with new looks!
Mode Gelap
Aa Text
Share:
Read Next : Pemkot Hamburg Puji Bhinneka Tunggal Ika, Pendorong Kuat Hubungan Bilateral
Advertisement . Scroll to see content

Jaga Kesehatan Mental, KJRI Hamburg Dorong WNI Saling Mendengar dan Menguatkan

Selasa, 13 Oktober 2026 | 22:41 WIB
  • author Mada Mahfud
Jaga Kesehatan Mental, KJRI Hamburg Dorong WNI Saling Mendengar dan Menguatkan
KJRI Hamburg menggelar lokakarya bertema Rekat Bersama, Merawat Jiwa untuk menjaga kesehatan mental WNI. (Foto: Istimewa)

HAMBURG, iNews Cilegon.id– Jaga kesehatan mental di negeri orang, Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Hamburg mendorong WNI untuk saling mendengar dan menguatkan. 

Dorongan tersebut disampaikan Konsul Jenderal RI di Hamburg, Renata Siagian, dalam keterangan tertulis, Selasa (13/10/2026). 

Renata menekankan pentingnya perhatian bersama terhadap isu kesehatan mental yang sering kali diabaikan. 

KJRI Hamburg terkait langkah menjaga kesehatan WNI, menggelar lokakarya bertema “Rekat Bersama, Merawat Jiwa”.Lokakarya untuk peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia berlangsung di Aula KJRI Hamburg (10/10/2026). 

Lokakarya menjadi kolaborasi KJRI Hamburg, Ruanita Indonesia, Kesmenesia, dan Life Architekture. 

"Ada seseorang yang mungkin sedang berjuang, tetapi tidak tahu kepada siapa harus bercerita,” kata Renata.

Renata langkah nyata ini menjadi bagian dari peringatan Hari Kesehatan Mental Sedunia yang bertujuan merawat jiwa serta membangun lingkungan yang aman, inklusif, dan saling mendukung bagi masyarakat Indonesia yang berdomisili di wilayah Jerman Utara.

"Kegiatan ini menghadirkan ruang yang merangkul warga Indonesia untuk saling mendengarkan dan saling menguatkan," jelas Renata.

Kesehatan mental tak bisa dianggap enteng. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada September 2025 mengungkapkan fakta bahwa lebih dari satu miliar orang di berbagai penjuru dunia hidup dengan gangguan mental. 

Sementara itu, riset di Jerman pada tahun 2024 juga mencatat tingginya tingkat gejala depresi dan kecemasan, dengan kelompok perempuan usia muda sebagai pihak yang sangat rentan.

Kondisi di dalam negeri pun menunjukkan tantangan serupa. Temuan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) tahun 2022 menunjukkan bahwa satu dari tiga remaja Indonesia berusia 10 hingga 17 tahun, atau setara dengan 15,5 juta jiwa, mengalami permasalahan kesehatan mental.

"Fakta-fakta tersebut makin memperkuat komitmen KJRI Hamburg untuk hadir merangkul warganya di perantauan," tegas Renata. 

Renata menyebut perwakilan RI akan terus memberikan pelindungan serta meningkatkan mutu pelayanan publik bagi WNI.

“KJRI ingin menunjukkan bahwa saudara-saudara tidak sendirian. Negara hadir bagi lebih dari 7.100 WNI di Hamburg, Bremen, Niedersachsen, dan Schleswig-Holstein,” tukas Renata.

Renata juga menambahkan bahwa kolaborasi erat antara perwakilan RI, komunitas WNI, dan pelbagai pemangku kepentingan menjadi kunci utama dalam memperkokoh jejaring dukungan kesehatan mental.

Lokakarya dihadiri secara langsung 40 WNI. Para peserta mengikuti rangkaian acara yang terbagi ke dalam dua sesi utama yang saling melengkapi. 

Sesi pertama bertajuk ruang sadar yang dipandu oleh Bayu Prihandito dari Life Architekture. Bayu mengajak para peserta untuk lebih mengenali diri sendiri, memahami gejolak emosi, serta merefleksikan perasaan yang sedang mereka alami. 

Sesi ini memberikan kesempatan berharga bagi peserta untuk sejenak melepas pusingnya rutinitas harian, memberi ruang pada diri, dan membangun kesadaran emosional yang lebih sehat.

Sesi berikutnya berlanjut pada aktivitas kolase untuk kesehatan mental yang dipimpin oleh Nelden Djakababa-Gericke dari Kesmenesia. Nelden mengarahkan peserta untuk mengekspresikan dinamika perasaan, pengalaman pribadi, serta makna hidup melalui tulisan reflektif dan kreasi seni kolase.

Kedua sesi tersebut sukses menciptakan suasana yang aman dan hangat. Para peserta leluasa berekspresi, mendengarkan cerita satu sama lain, serta saling menguatkan baik dalam interaksi personal maupun diskusi kelompok kecil. 

Panitia merangsang peserta untuk membangun afirmasi positif sekaligus menyadari bahwa setiap individu melintasi perjalanan hidup yang unik. Keberanian untuk membuka suara dan kesediaan untuk menyimak menjadi fondasi paling mendasar dalam menangani isu kesehatan mental.

Editor: M Mahfud

Related News

Konten di bawah ini disajikan oleh Advertiser. Jurnalis iNews Network tidak terlibat dalam materi konten ini.

Latest News

 
iNews Network
Kami membuka kesempatan bagi Anda yang ingin menjadi pebisnis media melalui program iNews.id Network. Klik lebih lanjut